Tampilkan postingan dengan label Artikel Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Menulis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Februari 2020

MODAL MENJADI PENULIS

Menjadi penulis untuk sebagian orang memang suatu profesi yang tidak menjanjikan untuk mendapatkan materi. Namun ada juga yang berkeyakinan menjadi penulis maka akan didapat kepuasan materi dan kepuasan batini. Kepuasan materi didapat apabila tulisannya yang menjadi buku terjual laris dipasaran. Kepuasan batin aapabial tulisannya mengandung kebaikan dan dibaca dan dikuti oleh orang lain.

Banyak orang menganggap menjadi penulis memerlukan bakat, namun kenyataaannya bakat bukanlah segala-galanya.. Siapapun bisa menjadi penulis asalkan mempunyai kemauan . Modal dari penulis lebih kepada keinginan dan usaha untuk mencapai level penulis yang diminati banyak orang. Menjadi penulis yang buku-bukunya dinanti banyak pembaca.

Modal untuk menjadi penulis menurut Naning Pranoto :

1. Tekad  yang kuat untuk menjadi penulis. Kalau kita sudah mempunyai tekad maka halangan apapun dapat kita atasi. Setelah mempunyai tekad yang kuat disusul komitmen untuk memulai menulis secara terus menerus. Hal ini akan menjadi kebiasaan untuk menulis secara bertahap sehingga diharapkan menulis menjadi rutinitas. Jadikan menulis suatu rutinitas, misalnya sebelum tidur menyelesaikan satu artikel. Harus komitmen tiap hari menulis.

2. Banyak membaca dari berbagai sumber dan jenis bacaan. Kalau kita  makin banyak membaca akan memperkaya warna tulisan kita dan akan membuat mudah dalam menulis. Dengan membaca menambah pengetahuan dan memperluas wawasan. Daya imajinasi dan motivasi dalam diri untuk bisa membuat buku akan terbentuk dengan banyak membaca. Dengan membaca maka akan dating ide-ide yang bisa menjadi tulisan. Setiap bacaan pasti akan ada ide yang bisa ditulis menjadi sebuah cerita. Dari sebuah cerita nanti akan terkumpul banyak cerita, sehingga bisa dijadikan buku solo.

3. Banyak bergaul. Banyak bergaul atau bersosialisasi, membuat kita akan mudah memahami kehidupan dan permasalahannya  lebih baik lagi, membuat hasil tulisan kita semakin dekat dengan realitas masyarakat. Bahwa inspirasi tulisan juga bisa didapat dari permasalahan yang berada disekitar kita. Banyak silaturahmi dengan kawan lama akan mendapatkan ide tulisan dari yang teman ceritakan. Setiap teman pasti mempunyai cerita kehidupan yang berbeda-beda. Maka kita bisa merangkai kata untuk membuat sebuah tulisan.

4. Meningkatkan pembelajaran berbahasa dan kosakata Caranya dengan mempelajari kosakata dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kemudian membaca hasil tulisan orang lain / penulis senior yang akan membantu pemahaman kita dalam mengaplikasikan penggunaan kosakata  yang  di pelajari dalam suatu tulisan. Mempelajari kembali dasar dasar  ketatabahasaan dari  buku- buku  Pelajaran Bahasa Indonesia, dan mempraktekkan langsung dengan menulis.

5. Memiliki sarana atau media untuk menulis, dapat berupa computer, laptop, handphone, buku dll. Usahakan untuk membiasakan menulis karena ide atau inspirasi datang kapan saja dan dimana saja. Sarana yang ada tiada guna kalau kita tidak mulai untuk menuis. Saat ada ide bisa ditulis dikertas selembar. Bisa juga ditulis di handphone. Setiap ide yang berserak langsung bisa ditangkap dengan menulisnya.

6. Mempunyai tekad untuk melahirkan karya bermutu. Kita harus bertekad melahirkan karya-karya yang dapat bermanfaan bagi orang lain. Kita harus mempunyai kemauan untuk menertbitkan buku dimulai dari menulis buku antologi. Semakin sering menulis buku antologi maka akan dihasilkan juga buku solo. Buku karya kita. Usahakan tekad untuk menghasilkan karya terus kita pupuk sehingga akan konsisten dalam menulis. Mencintai pekerjaan menjadi penulis dengan setiap hari berusaha mencari cara untuk bisa menerbitkan buku

 

Sumber : Pak Cahyadi Takariawan

 

Senin, 27 Januari 2020

JENIS-JENIS TULISAN

Berdasarkan tujuannya dikenal empat jenis tulisan. Mari Mengenal 4 Jenis Tulisan Berikut Ini

1. Eksposisi( Expository Writing)
Eksposisi adalah tulisan yang bertujuan menginformasikan atau menjelaskan  sesuatu kepada pembaca. Tujuan utama teknik menulis tulisan eksposisi adalah mengklarifikasi, menjelaskan, mendidik, atau mengevaluasi sebuah persoalan. Penulis berniat untuk memberi informasi atau memberi petunjuk kepada pembaca. Eksposisi mengandalkan strategi pengembangan aliena seperti lewat pemberian contoh, proses, sebab-akibat, klasifikasi, definisi, analisis, komparasi, dan kontras.
Contoh tulisan eksposisi adalah berita di media, tips, buku teks, resep dan tulisan ilmiah.

2. Deskripsi ( Descriptive Writing)
Tulisan deskripsi adalah karya tulis berisi gambaran detail tentang sesuatu, baik fiksi maupun non fiksi. Deskripsi adalah gambaran verbal ihwal manusia, objek, penampilan, pemandangan, atau kejadian. Teknik menulis ini menggambarkan sesuatu sedemikian rupa sehingga pembaca dibuat mampu sebagaimana dipersepsi oleh panca indera. Karena dilandaskan pada panca indera, maka deskripsi sangat mengandalkan pencitraan konkret dan rincian atau spesifikasi. Semua ini diniati demi terciptanya impresi dominan yang menjadi tujuan penulisan. Karena pencitraan dan spesifikasi ini, deskripsi menjadi hidup dan sering membuat argument menjadi sangat persuasif. Deskripsi dapat menjelaskan dan mengembangkan sebuah komparasi, proses, definisi, argumen, dan klasifikasi, dan strategi lainnya. Deskripsi bisa bersifat objektif dan subjektif tergantung tujuan penulisan. Deskripsi bisa dibagi menjadi dua: ekspositori dan impresionistis. Ekspositori merujuk pada deskripsi yang logis, sedagkan impresionistis menggambarkan impresi penulis ihwal yang dituliskannya .Contoh tulisan deskripsi termasuk puisi, jurnal, gambaran alam, novel, naskah drama atau gambaran tentang suatu konsep.

3. Argumentasi
Argumentasi adalah karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran dari sebuah pernyataan. Teks argumen secara tradisional terbagi atas dua kategori, yaitu induktif dan deduktif. Dalam teknik menulis argumen, penulis dapat memilih salah satu atau dua-duanya. Argumen tidak berarti pertengkaran. Dalam teks argumen, penulis menggunakan berbagai strategi atau piranti retorika untuk meyakinkan pembaca ihwal kebenaran atau ketidakbenaran itu. Tulisan argumen mungkin jenis tulisan yang paling sulit dikerjakan. Ia melibatkan semua jenis tulisan lainnya. Inilah tulisan yang menghasilkan sebuah perbedaan atau membuat sesuatu selesai. Subjek yang dibicarakan merentang dari yang ringan sampai persoalan hidup dan mati.

4. Narasi
Narasi adalah tulisan berisi cerita atau penuturan penulisnya tentang kejadian nayat atau fiktif. Narasi berasal dari kata to narrate, yaitu bercerita. Cerita adalah rangkaian peristiwa atau kejadian secara kronologis, baik fakta maupun rekaan atau fiksi. Walau begitu, teknik menulis narasi bisa saja dimulai dari peristiwa di tengah atau paling belakang, sehingga memunculkan flashback. Narasi bisa bergaya kisahan orang pertama sehingga terasa subjektivitas pengarangnya, atau orang ketiga sehingga terdengar lebih objektif. Narasi seringkali berpadu dengan deskripsi dan berfungsi sebagai eksposisi atau persuasi.Contoh tulisan narasi adalah novel, cerita pendek, anekdot dan puisi.

Sumber : Pembelajar KMO dengan beberapa bacaan

Kamis, 23 Januari 2020

UNSUR-UNSUR MENULIS


Menurut pendapat Gie (dalam Nurudin, 2010:5), unsur-unsur dalam menulis terdiri dari:

1. Gagasan, yang dapat berupa pendapat, pengalaman, atau pengetahuan yang ada dalam pikiran seseorang. Gagasan seseorang akan sangat tergantung pada pengalaman masa lalu, pengetahuan yang dimilikinya, latar belakang hidupnya, kecenderungan personal dan untuk tujuan apa gagasan itu ingin dikemukakan.

2. Tuturan (narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi), yaitu pengungkapan gagasan sehingga dapat dipahami oleh pembaca.

3. Tatanan, yaitu tata tertib pengaturan dan penyusunan gagasan dengan mengindahkan berbagai asas, aturan, teknik, sampai merencanakan, rangka dan langkah.

4. Wahana, sering disebut juga dengan alat. Wahana dalam menulis berarti sarana pengantar gagasan berupa bahasa tulis yang terutama menyangkut kosa kata, gramatika, dan retorika (seni memakai bahasa).

Sumber : Materi Pembelajar KMO

Jumat, 20 September 2019

PEMASARAN BUKU

MEMBUAT BUKU
( Bagian Pemasaran)
Nara sumber : Ustadz Cahyadi Takariawan

     Setelah buku selesai ditulis, di edit, dan diterbitkan dengan memilih beberapa metode, dan kalau sudah jadi bukunya maka tinggal bagaimana memasarkan buku tersebut.
Ada banyak jenis / cara memasarkan buku, tapi Pak Cah menyederhanakannya menjadi 3 bagian:

1. Memasarkan buku secara Off line

Pertama, buku yang dipasarkan secara offline yaitu pemasaran langsung dari penjual ketemu langsung dengan pembelinya. Mekanisme ini yang lazim dijumpai apabila buku kita di jual di toko-toko buku,  di tempat pameran, atau tempat yang mendisplay buku tersebut.  Bisa juga dengan pemasaran direct (langsung dari rumah ke rumah), menawarkan, membawa buku di bawa dari rumah ke rumah, atau pas ada kegiatan yang melibatkan banyak orang, seperti seminar atau kegiatan-kegiatan keramaian, di situ kita display buku-buku kita untuk di jual langsung.

2. Memasarkan buku secara On line.

Kedua, Pemasaran secara Online. Dengan cara ini kita harus menggunakan media-media yang secara online, seperti dipasarkan melalui facebook, instagram, website, blog, atau melalui gruop-group chating (WA, Telegram, dan lain-lain).
Metode pemasaran online pada saat sekarang  menjadi trend, banyak barang yang di jual secara online termasuk juga buku.

3. Menggabungkan dari pemasaran offline dan online.

    Ketiga, Penggabungan secara offline dan secara online.
Yaitu di jual offline iya, di jual online juga iya. Jadi ada offline ada juga online, dan dua-    duanya di tempuh.

(Belajar bersama pak Cahyadi Takariawan di Pembelajar Alineaku

PENERBITAN BUKU

MEMBUAT BUKU
( Bagian Penerbitan)
Nara sumber : Ustadz Cahyadi Takariawan

     Bagaimana proses menerbitkan sebuah buku?.  Sebelumnya sudah dibicarakan sejak dari mulai pra penulisan, proses penulisan,dan editing. Seterusnya tibalah saatnya memikirkan bagaimana menerbitkan buku tersebut.Zaman sekarang proses penerbitan buku sangat mudah, gampang tidak seperti dahulu karena banyak sarana yang dapat digunakan dan tersedia dalam proses penerbitan sebuah buku.

Dalam proses penerbitan buku menurut  ada 3 metode, yaitu:

1. Menerbitkan Buku Sendiri  (Self Publishing)

     Kita punya naskah, kita terbitkan sendiri. Dalam menerbitkan buku maka akan dikenal penerbit dan percetakan. Ada perbedaan antara percetakan dan penerbit. Pada Percetakan, mereka memiliki izin usaha untuk percetakan dan hanya mencetak, mencetak undangan, mencetak poster dan lain-lain mereka bukan penerbit.  Sedangkan penerbit, punya izin sebagai penerbit buku. Dengan demikian tidak setiap percetakan adalah penerbit, dan tidak setiap penerbit adalah percetakan.  Antara percetakan dan penerbit bisa jadi satu atau bisa juga menjadi hal yang berbeda

   Dalam self publishing kita hanya sebagai penerbit bukan percetakan. Dalam hal ini tinggal diputuskan apakah semua bagian mau dikerjakan sendiri atau dikerjakan oleh tim. Kalau kita putuskan dikerjakan sendiri, maka pembuatan naskah, editing, pembuatan cover semua dikerjakan sendiri. Tetapi kalau kita putuskan dikerjakan oleh tim maka ada proses yang bukan kita yang mengerjakannya. Kalau sudah siap maka tinggal di bawa ke percetakaan saja, dimana dipercetakan tersebut tergantung perjanjian kita.

   Pada self publishing tidak ada nama penerbit yang ditulis di covernya melainkan judul buku dan nama penulis saja.

2. Penerbit "Indi", atau kalau dipanjangkan adalah "Indipenden". Yaitu apabila buku diterbitkan secara mandiri dan menawarkan diri untuk menerbitkan serta sudah berizin.

   Antara penerbit indi dan penerbit major berbeda. Kalau pada penerbit indi tidak punya persyaratan harus berapa eksemplar atau tidak mematok berapa minimal maupun maksimal. Penerbit indi memenuhi permintaan customer. Dalam tampilan covernya terdiri dari judul, penulis, penerbit. Sedangkan pada penerbit major mereka punya standar dalam menentukan berapa eksemplar.

   Penerbit Indi sudah banyak di kota-kota dan mereka bersedia membantu kita untuk kepentingan penerbitan sebuah buku / mendanai penerbitan buku kita namun ada yang menerbitkan saja tanpa membiayai. Bedanya dengan self publishing, dalam penerbitan indi ini ada nama penerbit. Kesamaannya mau dikerjakan sendiri atau dikerjakan dengan tim.

3. Penerbit Mayor

   Penerbit Mayor adalah penerbit yang paling dikenal oleh masyarakat selama ini secara luas. Penerbit yang sudah berizin, memiliki jaringan pemasaran dan relatif bercorak nasional. Pada jaman dahulu ini satu-satunya penerbit.

   Penerbit mayor adalah sebagai pelaku bisnis, sehingga apabila kita mau menggunakan jasanya tidak mudah, kita harus mengantri dengan penulis lain yang sama ingin menerbitkan bukunya. Penerbit mayor menghendaki semua buku yang dicetak itu laku, sehingga pasti mereka akan menyeleksi naskah yang kita masukkan dengan sangat detail.

   Bagi penulis pemula yang belum dikenal, maka harus terlebih dulu mengajukan proposal kepada penerbit mayor.  Namun apabila kita sudah menjadi penulis yang terkenal dan tulisan kita sudah banyak yang best seller, maka bukan kita yang mengajukan proposal, tapi penerbit mayor sendiri yang akan menawarkan untuk proposal penerbitannya.

   Setelah kita memasukkan naskah ke penerbit mayor, maka nanti kita akan mendapat balasan diterima atau tidaknya naskah kita. Kalau tidak diterima maka kita harus mencari penerbit lain. Namun apabila kita diterima maka kita akan melakukan kontrak kerjasama dengan penerbit mayor, dan biasanya mereka akan mengajukan beberapa pasal dalam perjanjian. Pantaulah prosesnya.
   Semua metode yang disebutkan di atas tadi tentunya ada plus dan minusnya, yang paling penting kenali dulu dan baru kita kerjakan.

(Belajar Bersama Pak Cahyadi Takariawan di Pembelajar Alinea)

MENULIS SEMUDAH BERNAFAS

JUDUL : MENULIS SEMUDAH BERNAFAS

Nara Sumber : Ustadz Cahyadi Takariawan


Bagaimana caranya menulis semudah bernafas. Kita fokus untuk menulis. Bernafas akan terasa sulit jika difikirkan, jika natural maka akan terasa mudah. Begitu juga dengan menulis, menulis akan terasa sulit apabila kita pikir, karena mencampurkan antara pekerjaan menulis dengan pekerjaan mengedit.  Hal itu terjadi karena mengedit perlu berfikir, kehati-hatian, ketelitian dan waktu lebih lama. Supaya menulis semudah bernafas, maka menulis saja. Jika kita berfikir, itu adalah pekerjaan mengedit. Biarkan kesulitan-kesulitan terkumpul  pada bagian editing. Menulis terasa susah karena berfikir, maka kunci utama supaya menulis semudah bernafas adalah pisahkan antara aktifitas menulis dan mengedit.

Beberapa contoh latihan menulis, antara lain :

1.  Menulis kegiatan anda kemarin. Bagaimana caranya, ingat-ingat saja dan tuliskan tanpa berfikir. Tuliskan saja apa yang telah terjadi kemarin tanpa harus berfikir mengedit.

2.  Menulis rencana besok pagi. Tuliskan kegiatan yang akan kita lakukan besok pagi. Awalnya hanya mengingat atau merencanakan, lalu dituangkan dalam tulisan. Setelah tulisan selesai baru diedit.

3.  Membaca satu buku, tidak perlu semua, cukup satu bagian saja. Kemudian tulis ulang. Boleh dengan bahasa sendiri atau meringkasnya, sampai menjadi tulisan.

4.  Membaca satu artikel, lalu tulis ulang. Kita ambil artikel diblog atau dimana lakukan mulai dari membaca, mengerti, lalu menulis ulang ulang

5.  Mengikuti sebuah forum, misalnya: forum diskusi, seminar, pengajian atau forum-forum lainnya. Setelah forum itu selesai, maka tuliskan ulang hal-hal apa saja yang telah disampaikan pada forum tersebut.

6.  Mendengarkan cerita, misalnya: cerita dari suami / istri, cerita dari anak atau dari siapapun, setelah itu tuangkan cerita itu dalam sebuah tulisan.

7.  Melihat satu film, lalu tuangkan isi / inti dari film itu ke dalam sebuah tulisan.

8.  Tuliskan riwayat hidup anda atau keluarga anda.  Tuliskan saja, sesuai dengan cerita anda ataupun cerita orang-orang di sekitar anda.

9.  Tuliskan kisah pertama bertemu dengan pasangan anda, karena di situ ada sebuah kesan yang tersimpan lama dalam ingatan. Maka tuliskankan saja tanpa harus berfikir mengedit.Sesuatu yang berkesan pasti akan mudah untuk mengungkapkannya menjadi sebuah tulisan.

10. Tuliskan kesulitan-kesulitan dalam menulis, maka tulis saja apa yang menyebabkan kesulitan-kesulitan sehingga akan mendapatkan solusi.


Ke sepuluh hal di atas merupakan tema yang dapat digunakan untuk latihan menulis semudah bernafas. Maka menulislah tanpa harus berfikir. Ketika 10 hal itu juga masih belum mampu membuat menulis semudah bernafas, maka ada formula lain menurut ustadz  Cahyadi, yaitu: BRT ( bicara, rekam, transkrip). Hal pertama yang harus dilakukan adalah bicara, bicara hal-hal yang baik tentunya, kemudian jangan lupa direkam, setelah proses itu selesai maka buatlah transkrip. Jangan pernah berfikir tentang bagus atau tidaknya tulisan itu, di sukai atau tidak, yang penting mampu menulis dengan cepat, lancar, tanpa kendala dan beban. Pokoknya ditulis saja, sebab jika difikir akan seperti orang yang sesak nafas.

Kesimpulannya : bagaimana menulis semudah bernafas adalah dengan menerapkan hal-hal berikut:
1. Memisahkan antara aktifitas menulis dan mengedit.
2. Berkonsentrasi untuk menulis.
3. Merutinkan menulis setiap hari

(Belajar bersama pak Cahyadi di pembelajar Alinea)

EDITING TULISAN

JUDUL : EDITING TULISAN
Nara Sumber : Ustadz Cahyadi Takariawan


Sebelum dipublikasikan tulisan harus diedit terlebih dahulu. Tugas  utama mengedit tulisan itu adalah penulis itu sendiri. Hal itu dilakukan karena sebelum masuk ke penerbit mayor, penulis harus mengedit tulisannya supaya tidak terjadi kesalahan tentang penekanan pada pesan sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh penulis.  Apalagi tulisan itu akan dijadikan sebuah buku.
Editing dibagi menjadi 7 bagian, yaitu:

1. Editing isi, pesan  atau esensi.
Pesan apa  yang akan disampaikan oleh penulis kepada pembaca, maka ini adalah tanggung jawab dari penulis itu sendiri. Contoh : terdapat satu kata misalnya tidak, maka itu maknanya akan berbeda serta dapat mengubah dari tujuan tulisan itu sendiri. Begitu juga sebaliknya, ketika kata tidak itu dihilangkan   maka juga akan merubah makna dan tujuan tulisan itu. Selanjutnya, jika tidak diedit dengan benar, maka makna dan tujuannya menjadi bias persepsi oleh pembaca. Begitu juga tulisan yang akan di posting pada Fb, itupun harus diedit terlebih dahulu, sudah sesuai yang kita harapkan apa belum.

2. Edit gaya bahasa
Maksudnya adalah gaya bahasa yang digunakan agar  ada keserasian atau kesesuaian. Misalnya, ketika di bagian depan menggunakan gaya bahasa yang formal, dibagian selanjutnyapun harus menggunakan gaya bahasa formal. Jika ada perbedaan gaya bahasa, maka akan terasa kurang seimbang atau kurang cocok, meskipun pesan yang di sampaikan telah tercapai. Akan tetapi dengan adanya ketidak sesuaian gaya bahasa dari awal tulisan sampai akhir, maka tulisan tersebut juga kurang seimbang atau cocok.

3. Edit kosa kata
Ketika menulis, bisa jadi ada kosa kata tertentu berulang-ulang. Untuk mengurangi rasa bosan pada pembaca, maka penulis harus mengedit kosa kata dengan memikirkan kosa kata yang maknanya sama akan tetapi lafalnya berbeda.

4. Edit paragraf
Edit paragraf dilakukan dengan tujuan, apakah paragraf sudah membentuk satu kesatuan makna atau belum, paragraf yang dibuat terlalu panjang dan membosankan atau tidak. Oleh sebab itu perlu dilakukan edit paragraf, jika terlalu panjang bisa dibagi dua supaya tidak membosankan, memberi jeda buat pembaca,  untuk mengetahui dalam satu paragraf itu sudah menjadi satu kesatuan makna atau belum serta untuk mengetahui keserasian antara satu paragraf dengan paragraf yang lainnya.

5. Edit sistematika tulisan
Hal ini dilakukan jika satu naskah yang panjang telah dibuat outline, maka perlu diperhatikan apakah sistematikanya sudah menyambung antara yang satu dengan yang lainnya, apakah sudah menjadi satu kesatuan pembacaan yang enak atau belum.

6. Edit tanda-tanda baca
Kadang-kadang tanda baca kita tidak hiraukan saat menulis. Setiap tanda baca mempunyai makna yang berbeda, maka perlu di lakukan edit tanda-tanda baca, supaya tidak terjadi kesalahan makna.

7. Edit akhir
Setelah tulisan diedit semua, maka pastikan lagi mengedit tulisan dari awal sampai akhir, dari mengedit isi/pesan sampai mengedit tanda-tanda baca. Inilah yang disebut editing akhir, yang dapat penulis rasakan tulisannya sudah sempurna menurut si penulis. Setelah tulisan selesai diedit, jika disetorkan ke penerbit mayor maka pengeditan menjadi tugas tim editor yang ditugaskan oleh penerbit mayor.

Kesimpulan : Mengedit itu lebih sulit daripada menulis, maka mengedit dilakukan setelah tulisan selesai. Jangan dicampur adukkan anatar menulis dan mengedit. Selain itu, mengedit itu perlu waktu yang lebih lama daripada menulis. Jadi menulislah dan terus saja menulis tanpa memikir salah benarnya, kemudian mengedit dengan seksama setelah itu baru mempublikasikan.

(Belajar bersama pak Cahyadi di pembelajar Alinea)

Senin, 07 Januari 2019

TEKAD YANG KUAT MODAL UTAMA PENULIS




Menulis itu tidak harus orang yang berbakat. Menulis itu tidak sulit, hanya butuh cara untuk memulainya. Menulis bisa dilakukan semua orang. Tekad yang kuat adalah modal yang utama dibandingkan bakat menulis. Dengan tekat yang kuat semua masalah akan bisa diselesaikan. Demikian juga saya ingin menjadi penulis karena tekad untuk menorehkan nama di buku.


Dulu kala  waktu saya SMP, hiburannya yang paling sering hanya melalui radio. Kalau televisi dilihat hanya kalau aki nya baru di strom / di cash oleh bapak,  itu pun hanya tontonan yang penting, semisal ketoprak, tinju dan sepak bola. Radio ada siaran yang walau saya nggak melihatnya namun seakan akan  ikut merasakan siaran tersebut.

 

Dulu yang sering mendengarkan sandiwara saur sepuh dan tutur tinular. Untuk sandiwara saur sepuh lain waktu saya ceritakan.  Untuk saat ini yang saya   ceritakan yaitu sandiwara tutur tinular. Nah dari sandiwara ini aku mengenal tokoh Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga. Ada yang menarik dari tokoh Arya Dwipangga ini, setiap dia datang pasti akan mengeluarkan syair-syair indah. Waktu itu saya tertarik dan selalu ingin seperti tokoh ini yang pandai membuat syair. Kata-kata yang masih saya ingat

 

Nari Ratih

Kau adalah sebongkah batu karang

Tapi aku adalah angin yang sabar setia

Sampai langit terbelah dua

Aku akan membelai namamu bagaikan bunga

 

Jika hari telah tidur dipangkuan malam

Kukirim bisikan hatiku ini bersama angin

Biarpun malam pucat kedinginan

Biarpun bintang merintih dilangit yang jauh

Aku akan tidur dengan tenang

Sambil memeluk senyumu dalam kehangatan mimpiku

 

Semenjak itu sebetulnya saya suka dengan syair-syair puisi dan lain lain. Cuma kesenangan ini cuma sebatas senang belaka, lanjut SMA saya di kelas Fisika, kemudian kuliah di Pendidikan Teknik Mesin. Andai kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra tentu bisa menjadi pujangga.

 

Saat di dinding facebook ada tawaran ingin menjadi penulis semudah bernafas, yang kita kenal dengan kelas menulis online (KMO) saya mulai tertarik, tetapi ada ragu disana. Satu sisi ingin menjadi penulis yang bisa merangkai kata sehingga menjadi indah namun di satu sisi tidak mempunyai dasar tentang ilmu kepenulisan alias  dasar- dasar yang saya  punya tentang penulis masih nol. Namun untuk agar kehidupan ini variasi dan tidak monoton  akhirnya saya  putuskan ikut bergabung.

 

Setelah bergabung saya  dimasukkan  ke batch 14, walau lagi taraf belajar ternyata teman-temanku sudah jago-jago. Ada yang sudah bisa membuat cerita bersambung,  ada yang bisa membuat cerpen yang menghibur, membuat menangis dan sebagainya. Puisi pun selalu muncul setiap hari dengan judul dan tema yang bervariasi. Awalnya saya minder, tidak percaya diri karena saya belum bisa membuat apa-apa. Namun seiring mendengarkan video dari pak Cahyadi Takariawan  dan bunda Ida mau nggak mau saya  harus berani menulis.

 

Modal saya hanya tekad, apalagi teman-teman KMO memberikan dukungan dan motivasi. Ibarat para pejuang dengan modal semangat membara maka bisa mengalahkan penjajah. Saya juga sudah kepalang basah ibarat ada lawan yang tangguh pasti akan saya  lawan. Walaupun saya  tidak punya dasar ilmu menulis atau tidak punya bakat tapi saya  punya semangat untuk menjadi penulis.

 

Tangerang Selatan, By Agung Pramono

 


HAKEKAT GURU

HAKEKAT GURU Pengertian guru menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti orang yang mengajar. Jika profesinya mengajar baik di seko...