Minggu, 20 Januari 2019

SERIBU KOTA


Seribu kota sudah ku lalui
Seribu hati ku tanyai
Namun semua tak mengerti
Kemana dirimu pergi

Lima tahun sudah ku menanti
Sampai sekarang menunggu yang tak pasti
Berapa tahun lagi ku mencari
Mencari dirimu yang ingkar janji

Sudah ku coba melupakanmu
Melupakan namamu dihati ku
Sebenarnya aku tidak menipu
Aku masih sayang padamu

Seumpama kau sudah bahagia
Rela aku asal kau tak sengsara
Hanya satu pintaku,aku ingin bertatap muka
Walau hanya sebentar, pengobat rindu yang lara

#Disadur bebas
#Lagu didi kempot
#Sewu Kutho
#Agung Pramono, Tangsel

JANJI PERTAMA YANG GAGAL




Sore itu aku baru saja turun dari bis Aneka Jaya untuk berlibur akhir pekan di kampung halaman yaitu di Giriwoyo. Saat aku berjalan menuju tempat pemberhentian angkot, langkahku terhenti. Mata ku tak berkedip memandang gadis ayu di dekat angkot yang berambut pendek, berkulit kuning langsat. Dadaku bergemuruh, jantungku berdetak kencang saat melihat Zaenab  teman SMP dan SMA ku
********
            Setelah menyelesaikan kuliah di Solo, aku langkahkan kakiku untuk mencoba peruntungan mencari rizki, mengadu nasib  di kota Jakarta. Dengan berbekal sarjana pendidikan aku berangkat ke Jakarta. Awal-awal mengadu nasib aku melamar beberapa perusahaan dengan menggunakan ijazah SMA, namun tak satupun perusahaan yang berminat untuk merekrut aku menjadi karyawannya. Akhirnya dengan ijazah sarjana aku bisa diterima bekerja sebagai guru honor, yang waktu itu penghasilan guru honor sangatlah rendah. Namun karena keinginan untuk menjadi PNS pekerjaan menjadi guru honor tetap aku lakukan.
               Di Jakarta aku bertemu dengan teman-teman SMA dan setiap beberapa bulan kami bertemu untuk sekedar bercerita pengalaman hidup di Jakarta.  Untuk pertemuan berikutnya sudah kami sepakati yaitu di Blok M, Jakarta Selatan. Teman-teman SMA ada sekitar 10 orang yang berada di Jakarta untuk mencari rizki dengan jenis pekerjaan yang berbeda-beda. Akhirnya waktu yang kunanti akhirnya datang juga, minggu pagi, tanggal 14 januari 2001 bertempat di Blok M.
            Pertemuan reuni SMA untuk kali ini ada yang berbeda yang membuat hati ku berbunga-bunga, yaitu saat teman kelasku Ratna mengajak tetangganya bernama Zaenab yang juga satu SMA namun lain jurusan. Saat datang aku tidak mengira bahwa Ratna membawa temannya. Saat mendekat dan ku tahu bahwa ada Zaenab di samping Ratna, langsung saja tangan Zaenab aku jabat erat. Bagiku Zaenab tidak asing lagi, aku mengenalnya, ya sangat mengenalnya.
         Pertemuan terakhirku dengan Zaenab 7 tahun yang lalu menyisakan kenangan yang tak mungkin begitu saja hilang. Zaenab adalah temanku di SMPN Giriwoyo selama 3 tahun kita saling mengenal. Perkenalan kami lanjut ke tingkat SMA saat aku dan Zaenab sama-sama meneruskan sekolah di SMA N 1 Baturetno. Setelah itu kami berpisah hingga 4 tahun, hingga sekitar tahun 1996 aku bertemu lagi di terminal Baturetno.
         Sore itu aku baru saja turun dari bis Aneka Jaya untuk berlibur akhir pekan di kampung halaman yaitu di Giriwoyo. Saat aku berjalan menuju tempat pemberhentian angkot, langkahku terhenti. Mata ku tak berkedip memandang gadis ayu di dekat angkot yang berambut pendek, berkulit kuning langsat. Dadaku bergemuruh, jantungku berdetak kencang saat melihat Zaenab teman SMP dan SMA ku. Entah mengapa saat sekolah di SMP dan SMA  rasa hati ini biasa saja, namun sekarang terasa berbeda sekali, ada perasaan lain . Hati ini berbunga-bunga . Zaenab yang ku kenal dulu lain dengan sekarang, dia sudah berubah, nampak cantik dan menarik hati.
             Saat aku mendekat ke arahnya, entah mengapa Zaenab langsung naik ke angkot dan langsung jalan. Tiada kata sepatah pun dari kami. Aku termenung menyesal, kenapa aku tidak segera menyapanya dan mengapa aku hanya terdiam saat angkot sudah jalan. Akhirnya pertemuanku sore itu menyisakan kenangan yang mendalam. Dari sorot wajahnya tadi, dia memberikan senyuman seakan-akan dia juga membalas apa yang ku rasa. Namun tetap saja hatiku saat itu tidak lega karena tidak saling berbicara.
            Maka pertemuan di Blok M ini tidak aku sia-siakan dan Zaenab langsung ku ajak ngobrol, dan langsung ke sasaran.
“ Zaenab, gimana kabar mu ? Aku kangen sudah 7 tahun nggak bertemu” tanyaku langsung tanpa basa basi.
“ Baik , Rano . kabarku baik-baik saja.” Jawabnya sambil memberikan senyuman
“Zaenab, sudah punya pacar belum ? tanyaku lagi tanpa menghiraukan temanku yang lain.
Sambil tertawa Zaenab menjawab” belum “
Kemudian aku pun semakin semangat, “ Sudah ama aku saja ya “ timpalku
“ Bisa aja, kamu Rano” sambil tersenyum.
           Sejak pertemuan itu, aku langsung meminta nomor teleponnya agar pertemuan ini berlanjut lebih akrab lagi. Setelah satu jam pertemuan reuni SMA di Blok M akhirnya selesai, aku dan Zaenab akhirnya berpisah.
             Setelah 3 hari semenjak pertemuan itu, aku telpon Zaenab namun berkali-kali tidak diangkat. Aku telpon selama 3 hari berturut-turut, namun tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya aku pun berkata dengan diri sendiri “ Kalau memang jodoh ya insya Allah jadi, tapi kalau nggak jodoh ya pasti nggak jadi “. Sekedar untuk menghibur diri saja. Semenjak itu pula aku sudah tidak mau menghubungi Zaenab lagi, hingga seminggu berikutnya ada telpon yang masuk.
“ Assalamu Alaikum, Rano, gimana sehat “ ? Tanya nya dari seberang telpon
“Wa alaikum salam, sehat Zaenab, kok lama nggak bisa tersambung ya” jawabku
“ iya, lagi banyak kerjaan “ jawabnya.
“ Oo iya, Zaenab  yuk kita ketemuan yuks” ajakku untuk bertemu.
“ Nggak bisa, Rano. Paling bisa pulang kantor”
“ Ok nggak apa-apa, aku siap kok” timpalku.
           Akhirnya aku berjanji untuk bertemu dengan Zaenab, hari Jumat sepulang jam kantor yaitu jam 17.00WIB bertempat di Halte Saharjo. Di hari Jumat yang sudah kami sepakati, aku pulang mengajar jam 15.00 WIB. Setelah sholat ashar aku pun menuju halte Saharjo yang sudah kita sepakati. Sampai di halte aku pun mengambil posisi duduk yang nyaman karena memang aku harus menunggu sekitar 2 jam. Sambil melihat lalu lalang bis metromini dan mobil di Jalan Saharjo aku tetap sabar menunggu Zaenab yang akan datang jam 17.00 WIB. Inilah permulaan perjuangan mencari cinta anak manusia, jadi ya harus sabar menunggu.
            Setelah tepat jam 17.00 WIB Zaenab belum juga datang. Jam pun bergerak 15 menit, 30 menit Zaenab belum juga datang sampai tepat jam 18.00 Zaenab member kabar bahwa dia tidak bisa datang karena kerjaan banyak. Dia hari ini akan lembur. Mendengar kabar dari Zaenab antara marah, kecewa dan kesal menjadi satu karena aku menunggu sudah lama namun janji yang dia berikan ternyata kosong belaka. Namun di akhir telepon dia berkata kapan-kapan lain hari akan diusahakan. Inilah yang membuat aku masih punya pengharapan
         Seminggu sejak janji bertemu yang gagal telah berlalu, aku pun sudah tidak berharap banyak lagi. Sudah dua kali sebetulnya hati ini kecewa dengan dia, namun mau bagaimana lagi mungkin sudah takdir aku tidak berjodoh dengannya. Namun kali ini Zaenab yang menghubungi ku untuk janjian lagi bertemu, aku pun mengiyakan.
       Akhirnya janji yang ke dua ini terlaksana, aku jemput dia ditempat kakaknya di kawasan Kampung Melayu. Kita akhirnya bisa bertemu untuk jalan ke tempat rekreasi.
“ Zaenab, mau kah kamu menjadi jodohku” tanyaku sembari mengiba kepadanya
“ Memang Rano mau dengan ku “ Jawabnya
“Mau, mau, mau….” Jawabku kegirangan seperti anak kecil.
        Akhirnya pada pertemuan itu kami berjanji untuk menjalin hubungan pertemanan ini agar sampai ke jenjang pernikahan. Tidak ada kata-kata romantis dariku karena memang aku memang tidak bisa romantis. Namun aku bertekad dan berjanji untuk menjaga hubungan ini dengan sebaiknya
Zaenab ini pada akhirnya menjadi jodohku. Dan aku semakin yakin bahwa memang jodoh itu rahasia Allah saja. Kalau aku tahu bahwa Zaenab itu adalah jodohku tentu dari sekolah SMP dan SMA aku akan selalu disampingnya. Tapi itulah jodoh yang mendapatkannya perlu perjuangan yang berliku-liku.
                                                                     ==Tamat==




Jumat, 18 Januari 2019

RINDUKU TAK BERTEMU


Saat kita saling pandang waktu itu
Hanya tatapan tanpa kata dari mu
Yang ku terima  balasan senyummu
Panah asmara menancap di hatiku

Pertemuan ini membekas di dadaku
Akhirnya kita teruskan cerita cinta masa lalu
Hubungan  kita tambah semakin mesra dan syahdu
Menuju hidup yang bahagia keluarga idamanku

Namun semuanya hanyalah semu
Saat kau dengan tega tinggalkanku
Rinduku kepadamu nggak bertemu
Ternyata kau sudah dapat penggantiku

Akhirnya rinduku hanyalah permainanmu
Hilang dan musnah karena sandiwaramu
Ternyata kau bermain dibelakangku
Kau menjalin asmara dengan teman baikku

Tangsel 18 Januari 2019

MANTAN MAAFKAN AKU


Awalnya tak sengaja kita bertemu
Gara-gara aku salah menegurmu
Salah memanggil namamu
Ternyata kau malah suka padaku

Akhirnya aku tertarik padamu
Senyum manismu membangkitkan semangatku
Ku kejar kau tak kenal waktu
Namun semua berakhir pilu

Di saat cinta kita sedang merona
Aku harus meninggalkan mu karena cita-cita
Meninggalkan dirimu yang ku cinta
Semua kenangan tinggal cerita

Setelah  terpisah oleh waktu yang lama
Tidak ada kabar beritamu yang ku terima
Hingga ku putuskan untuk pergi ke KUA
Meninggalkan dirimu sendiri di sana

Tangsel 18 Januari 2019
Oleh : Agung Pramono

Senin, 07 Januari 2019

TEKAD YANG KUAT MODAL UTAMA PENULIS




Menulis itu tidak harus orang yang berbakat. Menulis itu tidak sulit, hanya butuh cara untuk memulainya. Menulis bisa dilakukan semua orang. Tekad yang kuat adalah modal yang utama dibandingkan bakat menulis. Dengan tekat yang kuat semua masalah akan bisa diselesaikan. Demikian juga saya ingin menjadi penulis karena tekad untuk menorehkan nama di buku.


Dulu kala  waktu saya SMP, hiburannya yang paling sering hanya melalui radio. Kalau televisi dilihat hanya kalau aki nya baru di strom / di cash oleh bapak,  itu pun hanya tontonan yang penting, semisal ketoprak, tinju dan sepak bola. Radio ada siaran yang walau saya nggak melihatnya namun seakan akan  ikut merasakan siaran tersebut.

 

Dulu yang sering mendengarkan sandiwara saur sepuh dan tutur tinular. Untuk sandiwara saur sepuh lain waktu saya ceritakan.  Untuk saat ini yang saya   ceritakan yaitu sandiwara tutur tinular. Nah dari sandiwara ini aku mengenal tokoh Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga. Ada yang menarik dari tokoh Arya Dwipangga ini, setiap dia datang pasti akan mengeluarkan syair-syair indah. Waktu itu saya tertarik dan selalu ingin seperti tokoh ini yang pandai membuat syair. Kata-kata yang masih saya ingat

 

Nari Ratih

Kau adalah sebongkah batu karang

Tapi aku adalah angin yang sabar setia

Sampai langit terbelah dua

Aku akan membelai namamu bagaikan bunga

 

Jika hari telah tidur dipangkuan malam

Kukirim bisikan hatiku ini bersama angin

Biarpun malam pucat kedinginan

Biarpun bintang merintih dilangit yang jauh

Aku akan tidur dengan tenang

Sambil memeluk senyumu dalam kehangatan mimpiku

 

Semenjak itu sebetulnya saya suka dengan syair-syair puisi dan lain lain. Cuma kesenangan ini cuma sebatas senang belaka, lanjut SMA saya di kelas Fisika, kemudian kuliah di Pendidikan Teknik Mesin. Andai kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra tentu bisa menjadi pujangga.

 

Saat di dinding facebook ada tawaran ingin menjadi penulis semudah bernafas, yang kita kenal dengan kelas menulis online (KMO) saya mulai tertarik, tetapi ada ragu disana. Satu sisi ingin menjadi penulis yang bisa merangkai kata sehingga menjadi indah namun di satu sisi tidak mempunyai dasar tentang ilmu kepenulisan alias  dasar- dasar yang saya  punya tentang penulis masih nol. Namun untuk agar kehidupan ini variasi dan tidak monoton  akhirnya saya  putuskan ikut bergabung.

 

Setelah bergabung saya  dimasukkan  ke batch 14, walau lagi taraf belajar ternyata teman-temanku sudah jago-jago. Ada yang sudah bisa membuat cerita bersambung,  ada yang bisa membuat cerpen yang menghibur, membuat menangis dan sebagainya. Puisi pun selalu muncul setiap hari dengan judul dan tema yang bervariasi. Awalnya saya minder, tidak percaya diri karena saya belum bisa membuat apa-apa. Namun seiring mendengarkan video dari pak Cahyadi Takariawan  dan bunda Ida mau nggak mau saya  harus berani menulis.

 

Modal saya hanya tekad, apalagi teman-teman KMO memberikan dukungan dan motivasi. Ibarat para pejuang dengan modal semangat membara maka bisa mengalahkan penjajah. Saya juga sudah kepalang basah ibarat ada lawan yang tangguh pasti akan saya  lawan. Walaupun saya  tidak punya dasar ilmu menulis atau tidak punya bakat tapi saya  punya semangat untuk menjadi penulis.

 

Tangerang Selatan, By Agung Pramono

 


UNTAIAN NAMA PERGANTIAN TAHUN


UNTAIAN  NAMA PERGANTIAN TAHUN

A = Angin malam bergerak lembut
G = Gemuruh suara memecah langit
U = Ukiran indah cahaya malam itu
N = Nian mempercantik ciptaan ilahi
G = Gempuran kembang api silih berganti

P =  Pertanda tahun 2018 akan segera berganti
R =  Riang gembira menyambut tahun baru 2019 ini
A = Antusias demi hidup yang berarti
M = Momen yang terjadi setahun.sekali
O = Orang-Orang rela menjemput hari
N = Nyeri tahun 2018 akan bertepi
O = Obsesi perubahan hidup yang dicari

🚗AGUNG PRAMONO🛵

Kamis, 03 Januari 2019

HARAPAN ORANG TUA

SEBUAH UNTAIAN NAMA

A = Awali  hidup dan kehidupan mu dengan bismillah
G = Gunakan waktu dalam menjalani kehidupan dengan baik
U = Untuk beribadah kepada Alloh yang menciptakan mu
N = Nanti agar kau tak menyesali apa yang terjadi
G = Ghairahmu pada agama harus kau utamakan

P = Perhatikan olehmu wahai anakku..
R = Ridha Alloh harus kau cari dalam hidup ini
A = Agar kau menjadi anak  yang berguna  dikemudian hari
M = Menjadi anak baik dambaan hati
O = Orang-Orang di sekelilingmu  tetap kau hormati
N = Nanti biar hidupmu bahagia dan disenangi
O = Orang lain pun akan berbaik hati


by: AGUNG PRAMONO
===================

HAKEKAT GURU

HAKEKAT GURU Pengertian guru menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti orang yang mengajar. Jika profesinya mengajar baik di seko...