Senin, 22 Februari 2021

VII.13 Guru yang memiliki simpati dan empati

13. Guru yang memiliki simpati dan empati

          Waktu saya masih duduk di sekolah dasar. Saat ulangan harian dibagikan. Andri teman saya menangis karena nilai yang didapat paling rendah. Dia malu dengan teman-temannya. Pak Widodo guru saya merasa kasihan dengan kondisi teman saya tersebut. Karena Andri terus menangis maka tanpa diduga pak Widodo juga ikut merasakan kesedihan dengan meneteskan air mata. Pak Widodo merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukan. Pak Widodo pun instropeksi dengan apa yang sudah dilakukan. Apakah mengajarnya ada yang salah?. Kenapa ada peserta didik yang nilainya tidak pernah berubah?

          Kata simpati dan empati memang seperti mirip tapi keduanya ternyata tidak sama. Kedua kata tersebut memang memiliki kepedulian didalamnya tetapi memiliki makna yang berbeda. Saya juga baru mengetahui sekarang pada contoh pertama hanya menggunakan simpati saat peserta didik nilainya rendah. Pak Widodo merasa sedih melihat peserta didiknya nilainya rendah dibanding dengan yang lain. Pada contoh yang kedua simpati dan empati menjadi satu. Kesedihan yang dirasakan akibat kegagalan seperti terjadi pada dirinya dan itu membuat Pak Widodo  menyesali dan introspeksi diri, “apa yang salah dari saya ketika mengajar?”

          Ternyata tugas seorang guru sangat berat. Saat mengajar  ada peserta didik yang gagal maka naluri seorang guru akan merasakan betapa sedihnya peserta didik tersebut. Apalagi kalau teman-temannya tidak mendukungnya malah mengejeknya atau mentertawakan. Oleh karena itu guru juga harus mendorong peserta didik lain ikut merasakan kesedihan dengan kegagalan temannya tersebut.

Adakalanya disaat mendidik seorang guru hanya menggunakan simpati yang mana akan merasa kasihan bila peserta didiknya tidak memahami materi yang diajarkan. Namun kalau lebih dari sekedar kasihan maka guru yang empati akan merasa tergugah. Yaitu ikut mesakan kesedihan bahkan menyesal dan intropeksi demi perbaikan mengajarnya.

          Empati adalah ikut serta secara emosional dan intelektual dalam pengalaman orang lain. Empati ini hampir sama dengan simpati. Bila Simpati hanya menempatkan diri kita secara imajinatif pada posisi orang lain, empati lebih kepada ikut serta secara emosional dan intelektual dengan pengalaman orang tersebut. Dalam empati kita melihat dan merasakan apa yang dialami orang lain. Sikap empati harus dikembangkan guru di kelas tempat dia mengajar. Dengan demikian setiap peserta didik bisa merasakan apa yang dialami temannya bukan  malah menjauhi karena keterbatasan yang dimilikinya.

          Untuk menanamkan empati terhadap anak didiknya guru harus mempraktikkan terlebih dahulu ,atau menjadikan empati sebagai bagian penting karakternya dalam kehidupan sehari-hari. Singkatnya guru harus terlebih dahulu menjadi figur teladan yang menerapkan empati itu. Sebagai contoh guru bisa mengunjungi peserta didik yang sedang sakit, membantu yang tengah kesusahan, membantu peserta didik dengan beban ekonomi yang berat dan sebagainya. Langkah ini ini akan menumbuhkan rasa empati dalam diri peserta didik

          Semoga kita menjadi guru jangan hanya datang, memberi salam, memberi materi. Tidak pernah mengetahui apakah materi yang diajarkan tersebut dimengerti oeh peserta didik atau tidak. Tidak pernah memberi ulangan. Kalaupun memberi ulangan tak sempat untuk dikoreksi. Saat mengajar ada yang tidak masuk tidak pernah ditanyakan kenapa dia tidak masuk. Kalaupun peserta didik ada yang sakit tak pernah memperhatikan sakitnya apa. Tak pernah mengunjungi siswa yang sakit tersebut.

          Semoga hal-hal yang tak baik kita buang jauh-jauh dari pikiran dan perilaku lita sebagai seorang guru. Jadilah guru layaknya orang tua yang memperhatikan kebutuhan peserta didik. Kalau ada yang gagal dimateri yang kita ajarkan maka coba cari penyebabnya mengapa dia gagal. Kalau ada masalah maka guru akan merasakan juga masalah apa yang sedang dihadapi. Kalau kebaikan yang kita tebarkan maka insya Allah kita jadi guru yang didambakan oleh peserta didik. Dinantikan kehadirannya, di cari saat kita tak bisa mengajar.

 

Lomba Blog Bulan Februari

Menulis Blog Jadi Buku

Tulisan hari ke 22 

Penulis Agung Pramono 

Minggu, 21 Februari 2021

VII.12 Guru yang rendah hati

12. Guru yang rendah hati

          Bu Yati guruku SD mengajar dengan lemah lembut dan kesabaran. Pak Satiman guruku SMP mengajarkan tentang kedisiplinan. Pak Sarwo  guruku SMA mengajarkan keakraban. Dari contoh ketiga guruku walaupun berbeda pembawaannya namun ketiganya dikenang dihati karena mengajar dengan rendah hati. Sikap yang spontan dilakukan oleh guru-guru tersebut untuk lebih dekat dengan peserta didik. Banyak cara yang mereka lakukan. Menegur dengan lembut, mengajak komitmen yang disepakati bersama dan mengajak diskusi bersama untuk suatu permasalahan. Jadi peserta didik tidak merasa tertekan dengan apa yang diberikan oleh guru. Guru tidak merasa sebagai penguasa dalam kelas.

          Guru yang profesional harus rendah hati. Rendah hati adalah karakter guru yang didambakan yang terus tertanam dalam diri guru. Menjadi guru tidak hanya mengajar saja tetapi harus memiliki keteladanan  seperti yang sudah kita bahas pada materi yang lalu dan karakter rendah hati. Guru jangan mengandalkan kesombongan tetapi memiliki kemampuan memaafkan. Seorang guru juga harus mampu mengelola emosional ketika menghadapi lingkungan yang sulit dikendalikan. Sebagai seorang guru harus rendah hati merasa bahwa peserta didik kita jadikan teman yang akan membantu tercapainya tujuan belajar. Dengan rendah hati kita akan memberikan pengetahuan dan kebijaksanaan kepada peserta didik.

          Seorang guru harus menghormati orang lain tak terkecuali peserta didik. Seorang guru yang menyapa dengan halus, lemah lembut dalam tindak tanduknya akan selalu membekas dihati peserta didiknya. Semua yang dilakukan akan terbawa oleh peserta didik walaupun sudah tidak diajar lagi oleh guru tersebut. Guru harus memahami diri sendiri. Mengetahui kemampuan yang dimiliki. Saat mendapatkan tugas dari pimpinan maka dia akan siap menerima tugas tersebut dan dilakukan dengan sebaik mungkin. Dia bisa membalas kepercayaan tersebut dengan prestasi yang diberikan. Namun dia juga menyadari keterbatasan dirinya. Saat dia tidak tahu maka akan bertanya pada rekannya bila perlu memberikan kepercayaan kepada orang lain.

          Dalam mengajar kita jangan sombong atau takabur. Walaupun kita ini seorang guru namun jangan merasa lebih tahu segalanya dibanding peserta didik. Untuk peserta didik setingkat SMP dan SMA mungkin dia  mendapat tambahan pengetahuan dari google atau yang lainnya. Jadi jangan menganggap peserta didik sekarang seperti kertas kosong yang tidak ada pengetahuan sama sekali. Kita sebagai guru harus rendah hati dan menerima kritik dan saran dari peserta didik. Dengan kritik dan saran maka ada bagian yang perlu diperbaiki lagi. Guru yang hebat adalah guru yang mau setiap saat melakukan perbaikan dan peningkatan kemampuan.

          Guru juga jangan membanggakan kemampuan yang kita miliki sehingga tidak mau menerima saran dari orang lain apalagi peserta didik. Hal ini perlu kita hindari. Perkembangan ilmu pengetahuan begitu pesatnya sehingga kemampuan yang kita miliki mungkin sudah tertinggal jauh. Oleh karena itu kalau ada saran dari peserta didik sekalipun mesti kita perhatikan.

Guru yang sombong atau tinggi hati tidak akan mampu meraih tujuan mengajar karena dia tidak bergaul akrab dengan peserta didiknya. Sehingga problematika belajar peserta didiknya tidak diketahui dan tidak bisa dipecahkan. Guru tidak mau menanyakan keluhan peserta didik. Begitu juga peserta didik mau bertanya segan untuk mengutarakan. Permasalahan ini bisa diselesaikan apabila seorang guru membimbing dengan kelembutan, menanyakan masalah yang dihadapi. Guru akan memberikan solusinya sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Kesimpulan dari pembahasan ini bahwa :

1.     Pengaruh karakter rendah hati tidak terbatas pada guru, akan tetapi memantul kepada peserta didik dan memberikan efek secara positif kepada peserta didik.

2.     Rendah hati adalah salah satu sebab dalam mengjilangkan jarak antara guru dan peserta didiknya.

3.     Guru yang sombong menyebabkan jauhnya peserta didik dengan guru mereka dan berpaling dari ilmu yang diajarkan. Peserta didik tidak memperhatikan materi yang diberikan oleh gurunya.

          Kita sebagai generasi penerus akan senang apabila kita mengenang guru karena ada hal yang selalu teringat. Misalnya guru kita yang mengetahui kelemahan kita, tidak pernah marah dan menghargai kita sebagai peserta didik serta karakter yang baik lainnya. Marilah kita sebagai guru menerapkan hal-hal yang baik tersebut agar kita menjadi guru yang didambakan peserta didik kita. Mereka akan merindukan kita tatkala tak bertemu.

 

Lomba Blog Bulan Februari

Menulis Blog Jadi Buku

Tulisan hari ke 21

Penulis Agung Pramono

 

 

 

HAKEKAT GURU

HAKEKAT GURU Pengertian guru menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti orang yang mengajar. Jika profesinya mengajar baik di seko...